ini adalah curahan hati ku!!!

..

Kemudian saya merasa dicintai.

Dan juga merasa diperhatikan.

Tapi terkadang juga merasakan sakit.

Merasa diacuhkan.

Merasa bosan.

Merasa tidak diperdulikan.

Lalu mereka datang untuknya.

Lebih tepatnya, mereka menghampiri dirinya.

Mereka yang begitu sempurna untuk disandingkan dengan dirinya.

Dan saya merasakan hawa panas menyergap dada saya hingga bagian yang paling dalam.

Merasa rendah karena perbandingan bodoh yang saya buat sendiri.

Merasa tidak sepadan dengan keberadaannya yang dinantikan dunia.

Tentu saja pikiran buruk itu yang lebih sering menghampiri akal sehat saya.

Sesaat saya terbangun dan mengutuk diri saya sebelum mereka mengutuk saya.

Mengapa tidak mereka saja yang berada di sampingnya?

Mengapa tidak saya saja yang pergi ke dunia lain tanpa perlu mengenalnya?

Benar-benar manusia hina.

Sungguh manusia yang tak kenal untung.

Tidak mengerti bagaimana cara bersyukur.

Kurang ajar.

Siapa?

Tentu saja saya.

Kemudian ia pergi begitu saja.

Ia merasakan jenuh karena hidupnya hanya berputar pada saya.

Baiklah, saya tidak tahu faktanya.

Apakah ia benar jenuh atau sejak awal tidak menginginkan keberadaan saya?

Tapi kepergiannya mengganggu saya.

Kepergiannya membuat lubang di hati saya.

Baiklah, saya berlebihan.

Apa benar saya siap kehilangan dirinya atau saya akan bertingkah laku layaknya orang gila karena kepergiannya?

Benar saya mengaguminya, mendambanya, menyayanginya, mengasihinya, dan mencintainya.

Benar saya membutuhkannya, menginginkannya, dan merindukan kehadirannya.

Namun akankah saya memaksanya?

Haruskah saya memintanya untuk tetap tinggal?

Tentu saja tidak.

Saya tidak berhak atas dirinya.

Lalu ia datang kembali.

Datang dan mengisi kembali lubang yang telah tergali.

Mengisinya hingga tertutup rapat.

Memberikan kehangatan yang mengindikasikan kenyamanan.

Lagi-lagi saya dapat mengatakannya.

Sungguh saya mencintainya.

Saya sangat menyayanginya.

Dan itu benar adanya.

Dan saya boleh kembali mengumbar senyum.

Mengungkap fakta bahwa senyumnya hanya untuk saya.

Merasakan kemenangan sebelum kembali terjatuh.

Mengabaikan fakta bahwa mereka ada untuknya.

Terkadang saya menghibur diri.

Atas kecemburuan tak beralasan yang saya rasakan.

Mencoba mendinginkan hawa panas yang menyergap.

Meredam gejolak iri yang tersembunyi.

Ia memilih saya dan bukan mereka.

Untuk saat ini.

Ia memilih bersama saya dan membalas kasih yang saya berikan.

Menghilangkan fakta bahwa tidak sepenuhnya saya benar.

Kemudian saya sadar waktu saya tidak banyak.

Ia melakukan segalanya karena ikatan perjanjian.

Hanya keisengan belaka yang tak mampu membuat harapan-harapan saya menjadi kenyataan.

Sekadar membuat harapan saya akan semakin menipis setelah waktu kami habis.

Lalu saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Ia lah sang matahari yang memancarkan sinarnya siang ini.

Haruskah saya bermuram karena tidak ada lagi kehangatan yang akan saya dapatkan?

Ataukah saya sepatutnya bersyukur karena tidak akan terkena terik dirinya lagi?

Dan saya hanya dapat berharap pada Sang Maha Agung.

Saya berdoa untuk segala kebaikan hakiki yang akan ia dapatkan.

Saya tidak mengharapkan apapun untuk diri saya saat sang waktu mulai menghampiri.

Saya hanya mengharapkan kebahagiaan dirinya.

Selamanya.

Tolong dengar jeritan hati makhluk hina ini ya Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s